Kenapa Saya Membuat Website?
Kenapa saya membuat website? Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang saya kira.
Saya punya tabiat yang agak ajaib: bikin website pribadi, mendiamkannya, lalu menghapusnya. Beberapa waktu kemudian, timbul lagi rasa gatal yang sama, saya bikin website lagi.
Pola kegagalannya selalu sama. Di awal, saya dihinggapi sindrom idealis yang merepotkan, yaitu ingin semuanya sempurna. Tapi di saat yang sama, saya dihinggapi penyakit kronis lainnya, yaitu malas dan merasa tidak punya waktu. Serba salah, memang. Tapi itulah saya.
Apakah website yang sekarang ini bakal bertahan lama? Saya tidak berani bertaruh.
Begini….
Bukan karena saya menganggap diri saya seorang penulis besar yang sampai harus punya website sendiri. Sama sekali bukan. Saya bahkan baru sadar, alasan saya kembali ke sini bukan karena saya gemar merangkai kata-kata indah, melainkan karena kepala saya terlalu bising.
Saya butuh kebebasan penuh untuk mengetik sejuta kata tanpa perlu ditagih call to action, tanpa batas karakter, dan sejujurnya, tanpa peduli apakah tulisan ini bakal ada yang baca atau tidak. Menulis di sini cuma cara saya mengevakuasi isi kepala.
Saya ini pengamat yang suka memperhatikan hal-hal sepele: cara orang berbicara, percakapan asing yang tertangkap telinga, atau kebiasaan-kebiasaan absurd di sekitar saya. Kadang saya ingin protes terhadap situasi di sekitar saya, tapi seringnya cuma mengendap jadi komentar sinis di kepala. Saya juga suka mengkhayal dan membuat cerita sendiri. Ceritanya tidak selalu masuk akal. Tidak selalu perlu masuk akal. Khayalan itu pun mengendap di kepala saya, lalu berubah jadi beban hidup.
Kepala saya ini seperti pasar kaget. Ramai, tidak beraturan, dan penuh barang-barang yang tidak jelas gunanya. Satu pikiran belum selesai dirapikan, pikiran lain sudah melompat tanpa permisi.
Apakah kepala orang lain juga seotentik dan seribut ini? Entahlah. Mungkin orang lain lebih beradab dalam mengelola isi kepalanya.
Saya sempat mencoba membuang keributan ini ke media sosial, tapi tempat-tempat itu makin aneh.
Facebook? Saya sempat menghapusnya selama empat tahun, lalu pas kembali malah bingung sendiri. Isinya bukan lagi kabar teman, tapi bombardir video Reels yang datang bertubi-tubi tanpa diundang. Instagram pun tidak jauh berbeda. Teman-teman saya entah ke mana, iklan dan rekomendasi malah yang rajin menyapa.
Twitter, atau sekarang X, juga tidak terlalu membantu. Saya bisa membaca, bisa ikut nimbrung, tetapi kalau ingin menulis agak panjang, ya tidak bisa.
Lalu TikTok? Sampai hari ini saya masih mempertanyakan tingkat kesadaran saya saat memutuskan membuat akun itu.
Saya tidak akan bersikap klise dengan bilang “I don’t even know why I made a TikTok account in the first place.” Jelas saya tahu kenapa. Dwihari, teman saya, yang menghasut saya untuk bikin akun TikTok.
Mengenai hiruk-pikuk di media sosial, sejujurnya saya tidak keberatan melihat orang pamer, selama dosisnya wajar dan tahu diri.
Yang membuat urat leher saya tegang adalah para influencer yang sibuk menguliahi dunia dengan kearifan artifisial, seolah-olah cara hidup mereka paling benar sedunia. Seenaknya menyuruh resign, seenaknya pula menyuruh jangan resign! Seperti dikejar target, mereka membuat carousel psikologi sampai para pengikutnya melakukan self-diagnosis.
Pernah lihat potongan klip podcast tentang urusan romansa? Saya pernah. Sekali. Tapi kemudian algoritma membawa saya melihat puluhan konten lainnya yang serupa.
Dua orang duduk berhadapan, saling menguliti definisi “high-value human”, seolah-olah kalau pasanganmu tidak peka sedikit, dia bisa langsung dicap toxic atau red flag.
Lalu jangan lupakan tipikal kreator yang hobi memamerkan jadwal harian super ketat: bangun jam empat pagi, meditasi, baca buku bisnis sambil menikmati kopi hitam, kerja secukupnya, lalu mengasihani orang-orang yang tidur lebih dari delapan jam sebagai “kaum tidak punya masa depan”.
Well, itu adalah hak mereka. Kalau saya iri, ya bikin saja konten sendiri. Begitu kira-kira otak saya bekerja.
Tapi jujur, saya tidak bisa bikin video dan hanya bisa menulis. Tulisan ini bukan bentuk antipati pada para kreator, melainkan kesadaran akan batas kemampuan diri.
Oleh karena itu, saya memutuskan membuat website pribadi ini sebagai rumah sendiri. Tempat saya bisa menulis sesuka hati, dengan segala ketidaksempurnaannya.
Di sini saya bebas menulis soal pekerjaan, buku, pengamatan yang tidak penting, khayalan yang kelewat jauh, atau hal-hal lain yang tiba-tiba memenuhi kepala saya.
Well, saya tahu ini ironis. Setelah mengomeli hiruk-pikuk media sosial sepanjang beberapa paragraf, kemungkinan besar Anda membaca tulisan ini karena saya mempromosikannya lewat sebuah tautan di media sosial juga. Anggap saja ini papan petunjuk di pinggir jalan raya yang bising, mengarahkan Anda untuk mampir ke ruang tamu saya yang lebih tenang.
Bisa jadi Anda menganggap tulisan saya lucu, bisa jadi Anda menganggapnya picik. Bahkan Anda bisa mengatakan tulisan saya biasa saja, cenderung nggak jelas. Tidak apa-apa. Saya memang bukan orang yang selalu masuk akal, apalagi selalu baik. Saya cuma ingin menulis apa yang ingin saya tulis.
Jadi, kalau kebetulan Anda terdampar di sini lalu menemukan satu-dua tulisan yang terasa pas, bersyukurlah. Berarti di dunia yang makin aneh ini, setidaknya ada dua orang yang sama-sama aneh.
*jb*
