Orang Kaya Pamer, Memangnya Kenapa?

Orang Kaya Pamer, Memangnya Kenapa?

Gara-gara unggahan seorang selebritas tentang ikhtiar dan sedekah, timeline mendadak jadi kelas sosiologi dadakan. Publik sibuk berdebat soal kemiskinan struktural versus kerja keras. Tapi di luar urusan teori itu, perhatian saya justru terlempar ke satu fenomena klasik yang tak pernah mati di media sosial: orang-orang superkaya yang gemar memamerkan kemewahan mereka.

Saya pertama kali melihat utasnya di Threads. Selebritas tersebut menulis tentang burung liar: rezeki memang ditanggung Allah, tapi burung yang malas terbang tidak akan kebagian makanan. Kalau uang kurang, tambah ikhtiar. Kalau malas, rezeki seret. Kalau tidak sedekah, makin seret. Dari burung itulah saya terbang ke tas, mobil, dan jet.

Terus terang, saya muak melihat flexing yang gila-gilaan. Tapi muak itu soal selera, bukan vonis moral.

Saya tidak merasa orang kaya wajib bersembunyi hanya karena ada orang lain yang tidak nyaman melihatnya. Saya bisa menganggap cara seseorang pamer itu norak tanpa menyimpulkan bahwa kekayaannya haram atau tidak pantas ia miliki.

Saya bukan contoh rajin tanpa bantuan. Tiga puluh tahun jungkir balik di dunia korporat, saya membangun karier, gonta-ganti pekerjaan, dan setiap kali resign selalu dengan mudah dapat pekerjaan baru. Saya bekerja keras untuk sampai di titik itu. Saya mengasah skill, saya berjejaring.

Tapi saya cukup jujur untuk tidak naif: perjalanan saya tidak lepas dari pintu-pintu kesempatan yang terbuka.

Saya anak bungsu dari keluarga miskin. Orang tua saya berdarah-darah menyekolahkan abang dan kakak saya. Setelah mereka berhasil, giliran mereka sekolahkan saya. Rantai bantuan itulah yang membuat saya tidak berakhir sebagai pemulung, melainkan pekerja kantoran selama tiga dekade. Saya mendapat privilese dari keringat orang tua dan keberhasilan saudara-saudara saya, lalu saya manfaatkan dengan kerja keras. Dua hal itu tidak pernah saling meniadakan.

Burung memang harus terbang. Saya tidak membantah itu. Tapi burung tidak memilih di hutan mana ia menetas.

Pengalaman ini membuat saya skeptis pada narasi yang terlalu dangkal. Baik narasi jualan motivator yang bilang siapa pun bisa kaya asal ikhtiar gila-gilaan, maupun narasi korban yang menganggap keberhasilan seseorang seratus persen hasil lotere lahir. Dua-duanya malas mikir.

Dua orang bisa sama-sama peras keringat dari subuh sampai malam, tapi hasilnya bumi dan langit. Rajinnya satpam yang jaga dua belas jam tidak berbuah sama dengan rajinnya anak pemilik bisnis tambang. Bukan karena yang satu kurang rajin, tapi karena ongkos masuknya beda: modal awal, akses sekolah, jaringan, kesempatan kerja, kondisi keluarga. Itu bukan mitos. Itu karcis.

Itulah mengapa perdebatan kemiskinan struktural ini perlu dibicarakan serius. Mengakui pentingnya kerja keras tidak harus membuat kita buta pada ketimpangan kesempatan. Dan mengakui privilese tidak berarti kita menghapus peluh yang dicucurkan seseorang untuk mencapai keberhasilannya.

Lalu, bagaimana dengan parade flexing yang tiap hari lewat di layar ponsel kita?

Jangan-jangan sebagian dari mereka sedang menjalankan misi kompensasi batin. Mungkin dulu pernah hidup susah, dipandang sebelah mata, atau tumbuh dengan dahaga dahsyat untuk membuktikan bahwa mereka “bisa”. Ketika uang akhirnya di tangan, memamerkan tas ratusan juta atau jet pribadi jadi cara paling instan untuk berteriak ke dunia: “Lihat, saya sudah sampai di sini!”

Dalam psikologi, kebutuhan untuk diakui memang bagian dari menjadi manusia. Kita ingin keberadaan kita dilihat, usaha kita dihargai. Bagi sebagian orang, pengakuan itu bentuknya bukan piagam, melainkan barang. Kekayaan tak lagi sekadar alat tukar, tapi stempel status.

Tentu, ini bukan diagnosis. Saya tidak tahu apakah itu yang terjadi pada seseorang yang gemar flexing, dan tidak semua pamer lahir dari luka. Ada yang memang menikmati barang mahal. Ada yang lapar perhatian. Ada yang membangun citra demi bisnis, karena Instagram bagi mereka bukan diary, melainkan etalase. Kita tidak bisa menyimpulkan kondisi batin seseorang dari unggahannya. Tapi kemungkinan itu cukup membuat saya sadar bahwa yang tampak berlebihan bagi saya bisa jadi punya makna bagi pelakunya.

Memahami bukan berarti harus suka, apalagi membenarkan semuanya.

Di sisi lain, penonton juga tidak sepenuhnya polos. Manusia itu makhluk pembanding, dan media sosial menyediakan panggung sempurna untuk menyiksa diri sendiri: keseharian kita yang riil dan berantakan dibandingkan dengan cuplikan terbaik hidup orang lain. Melihat seseorang dengan santai membeli barang seharga penghasilan kita bertahun-tahun, wajar kalau ada yang merasa teremas di dada. Mengapa saya belum sampai di sana? Kurang keras apa saya bekerja?

Perbandingan semacam itu tidak selalu buruk. Kadang ia memunculkan aspirasi. Tapi media sosial menjual fantasi tanpa memperlihatkan tagihannya. Kita lihat rumahnya, tidak lihat bagaimana rumah itu diperoleh. Kita lihat perjalanannya, tidak lihat kondisi keuangan di baliknya. Lama-lama standar hidup yang wajar terasa kerdil, dan pencapaian bertahun-tahun terasa tak ada harganya hanya karena tidak menyerupai potongan video lima belas detik.

Apakah solusinya meminta orang kaya berhenti pamer? Itu seperti meminta hujan berhenti karena kita lupa membawa payung. Kita tidak bisa menuntut semua orang mengatur ekspresi dirinya demi perasaan setiap penonton, apalagi penonton punya pengalaman dan kondisi yang berbeda-beda.

Lagi pula, ada ekosistem yang menopang semuanya. Orang membuat konten mewah, kita menonton, platform mendistribusikan, algoritma kenyang, perhatian menjadi uang.

Selama perhatian masih laku, pamer akan terus naik kelas: dari tas, ke mobil, ke jet, ke… entahlah, mungkin nanti oksigen impor. Jadi flexing bukan semata soal orang kaya yang ingin pamer. Ada kebutuhan individu, respons penonton, dan ekosistem yang saling mengunci, membuat perilaku ini makin lazim dan makin demonstratif.

Saya tetap tidak menyukai pamer kekayaan yang demonstratif. Saya tetap bisa mual melihat cara sebagian orang menayangkan kemewahannya. Tapi saya tidak mau ketidaksukaan itu mengaburkan persoalan ekonomi yang sesungguhnya.

Karena pamer dan klaim adalah dua hal yang berbeda. Ketika seseorang mempertontonkan jet pribadinya, kita sedang melihat caranya memilih menampilkan hidup. Ketika seseorang bilang siapa pun bisa kaya asal mau bekerja keras, kita sedang berhadapan dengan klaim tentang cara dunia bekerja.

Flexing tidak menciptakan kemiskinan struktural. Tapi ia menjadi racun ketika membuat orang yang sedang berjuang di bawah merasa bahwa kemiskinannya murni kesalahan pribadi karena “kurang kerja keras”. Di situlah letak bahayanya.

Burung memang perlu terbang. Tapi sebelum menyuruh siapa pun terbang lebih tinggi, ada baiknya kita menengok dulu hutannya. Karena bagi sebagian dari kita, hutannya memang sedang terbakar.

Saya mengakui hakmu untuk pamer. Saya tidak berkewajiban menyukai caramu. Dan saya menolak menyederhanakan persoalan kemiskinan menjadi perkara malas atau rajin.

-jb-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *