| |

Saya Resign Bukan Karena Tidak Bisa, Tapi Karena Terlalu Bisa

Resign.

Pernahkah Anda terbangun pada suatu pagi, menatap langit-langit kamar, lalu mendadak bisa memproyeksikan dengan ketepatan yang mengerikan tentang apa saja yang akan terjadi hingga delapan atau sepuluh jam ke depan?

Saya sering. Dan jujur saja, itu agak menakutkan.

Dulu, dari tempat tidur, saya sudah bisa menebak seluruh isi hari di tempat kerja. Kalau ada tender baru, misalnya, saya tahu persis divisi mana yang akan menyerah duluan dan divisi mana yang justru bersemangat. Ada yang menganggapnya beban, ada yang bersyukur. Kadang posisi mereka bertukar: hari ini komplain, di proyek berikutnya tidak.

Untuk menghadapinya, saya cuma perlu hadir dan bernapas. Proyeksi saya di kamar tidur dan kenyataan nyaris tidak pernah berselisih.

Belakangan, algoritma membawa saya sering mendengar lagu Somewhere Only We Know dari Keane. Tiba-tiba lagu itu terasa seperti tamparan pelan di pipi:

I walked across an empty land

I knew the pathway like the back of my hand.”

Bagi saya yang suka memperhatikan hal-hal sepele, ini bukan sekadar urusan romansa anak muda yang tersesat di hutan. Ini metafora paling jitu tentang bagaimana rutinitas kerja saya berjalan.

Seketika saya teringat tempat kerja yang baru saja saya tinggalkan. Saya hafal sudut-sudutnya, hafal siapa yang harus dihubungi, dan hafal cara setiap masalah diselesaikan, sampai-sampai seluruh hidup saya rasanya menyusut drastis menjadi sebuah rute yang steril dan membosankan.

Saya sangat tahu cara mengerjakannya, saya bahkan dibayar untuk itu. Namun entah sejak kapan, esensi dan maknanya menguap tanpa permisi. Seluruh rutinitas itu menjelma menjadi tanah kosong. Ramai, tapi hambar.

Di titik inilah, saya sadar saya telah burnout dan kehilangan pegangan. Dari dalam, saya seperti robot yang kebetulan digaji bulanan.

Lalu, bertambahnya usia membawa kesadaran lain yang lebih getir. Ada fase di mana kita lelah dengan riuh rendah dunia luar yang menuntut kita untuk selalu terlihat bergerak maju tanpa jeda. Di tengah kepungan ambisi, target, dan tenggat waktu yang tiada habisnya, lirik Keane datang sebagai pengingat yang sunyi:

“Oh, simple thing, where have you gone?

I’m getting old and I need something to rely on.”

Saya yang mulai menua ini sebenarnya tidak lagi mengejar keriuhan artifisial atau kompetisi yang melelahkan. Saya cuma butuh sesuatu yang nyata dan membumi. Sebuah jangkar kecil yang bisa menahan saya agar tidak ikut hanyut dalam arus yang terlalu deras.

Hal sederhana yang pergi dari saya itu ternyata adalah rasa berguna.

Di hari-hari terakhir, saya merasa tidak berguna lagi bagi perusahaan. Aneh, padahal pekerjaannya sudah saya kuasai betul. Kalau rasa berguna saya hanya diukur dari angka dan hasil kerja, saya butuh ruang lain—beberapa jam dalam sehari yang tidak wajib menghasilkan apa-apa. Sebuah somewhere only we know.

Saya ingin melambat. Bagi saya, melambat bukan berarti berhenti bekerja atau melepas ambisi, melainkan berhenti membiarkan pekerjaan menentukan seluruh tempo hidup saya.

Maka saya resign.

Keputusan itu tidak lahir dari satu pagi yang tiba-tiba tercerahkan. Awalnya saya terdorong oleh keadaan yang sudah tidak tertahankan: burnout saya parah dan lambung saya ikut protes karena GERD. Namun resign tetap sebuah pilihan. Saya memilih hidup dengan tempo yang lain.

Hanya saja, memutuskan untuk melambat ternyata tidak sama dengan bisa melambat.

Hari-hari pertama tanpa jadwal, saya masih bangun pagi dan menatap langit-langit. Bedanya, kali ini saya tidak bisa meramal apa-apa. Saya kira akan terasa bebas dan lega. Nyatanya, rasanya seperti berdiri di tengah ruang tamu rumah sendiri, lalu lupa mau mengambil apa.

Tanah kosong dalam lagu itu mendadak terasa harfiah: tidak ada kubikel, tidak ada rekan kerja, tidak ada proyek di meja, tidak ada jalan yang saya hafal.

Status saya sekarang resmi: pengangguran.

Satu kata yang bobotnya melebihi keputusan yang melahirkannya.

Dulu, hal-hal menyebalkan di kantor ikut menjadi pegangan harian. Begitu hal-hal itu hilang, pegangannya ikut hilang.

Jadi beginilah saya: sudah memutuskan melambat, tapi belum bisa.

Seperti orang yang akhirnya membeli sepatu lari, lalu cuma duduk di teras sambil memandangi sepatunya.

Saya sempat curiga resign bukan jawaban, melainkan persoalan baru yang kebetulan lebih sepi. Setelah saya pikir-pikir, mungkin dua-duanya benar: keputusannya tepat, persoalannya tetap baru.

Keduanya boleh ada bersamaan tanpa saling membatalkan.

Lalu saya kembali mendengar bagian lain dari lagu Keane:

“This could be the end of everything

So why don’t we go somewhere only we know?”

Nadanya genting, tetapi ajakannya santai. Sebuah ajakan untuk mundur satu langkah. Sebuah tempat di mana kita diizinkan meletakkan sejenak beban target profesional dan mengurai kembali isi kepala secara jujur tanpa perlu tampil sempurna.

Baru sekarang saya sadar bahwa ajakan itu tidak pernah bilang jalannya sudah kelihatan. Ia cuma bilang: mari pergi.

Mungkin sebuah tempat baru benar-benar menjadi “tempat” setelah kita sungguh-sungguh menuju ke sana. Kita kira begitu keluar dari rutinitas, kita otomatis tahu harus melakukan apa. Padahal yang kita dapat bisa jadi cuma ruang kosong, dan ruang kosong tidak selalu nyaman. Kadang kita memang harus tinggal di dalamnya sebentar sebelum tahu apa yang mau kita isi.

Saya belum menguasai seni melambatkan tempo. Saya baru di tahap memandangi sepatu. Saya tidak tahu ke mana jalan berikutnya akan membawa saya. Untuk sementara, saya cuma tahu bahwa saya sudah berbelok.

Dan semoga, pelan-pelan, sepatunya mulai dipakai.

Kalau Anda kebetulan terdampar di sini dan menemukan satu kalimat yang terasa pas, berarti ada dua orang yang memilih berhenti sebentar di hari yang sama.

Mari kita perlambat temponya sedikit. Atau, dalam kasus saya, mari belajar caranya.

*jb*

Similar Posts

  • |

    Kenapa Saya Membuat Website?

    Kenapa saya membuat website? Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang saya kira. Saya punya tabiat yang agak ajaib: bikin website pribadi, mendiamkannya, lalu menghapusnya. Beberapa waktu kemudian, timbul lagi rasa gatal yang sama, saya bikin website lagi. Pola kegagalannya selalu sama. Di awal, saya dihinggapi sindrom idealis yang merepotkan, yaitu ingin semuanya sempurna. Tapi di saat…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *